Laman

Thursday, October 29, 2009

Kembalikan Aku...

Ya Allah,
Hanya Kau Yang Maha Tahu akhirku,
Hanya Engkau Yang Maha Tahu hari esok yang akan terjadi,
Hanya Engkau Yang Tahu hadir sujudku setelah ini,
Hanya Engkau Maha Tahu syurga tercipta pasti untukku.

Ya Allah,
Aku ingin mati,
Kerana aku kecewa sebagai hambaMu,
HambaMu yang hina,
HambaMu yang bangga dengan imannya,
Namun lemah menjaganya.
Tapi,
PesanMu jangan lah aku berputus asa,
Kerana rahmatMu tidak terhingga,
Tapi hari-hari yang ku lalui,
Hari-hari kegagalan yang ku tempuhi.
Aku terus gagal,
Gagal untuk bangkit dari masa lalu,
Gagal untuk jihad dalam pentarbiahan ini.
Semangatku semakin pudar,
Lantaran dosa semakin tegar,
Melumut hatiku dengan noda kasar,
Aku makin sukar,
Melalui hari-hari yang kosong,
Hari-hariku kosong Tuhan,

Aku…
Dengan hijab yang ku bangga,
Masih gagal merombak dosa,
Yang terbelit di jasadku yang hina,
Hingga hijabku hilang kuasanya.

Aku!
Terus merintih,
Mohon padaMu agar hilang semua jerih,
Jerih menjaga iman dari runtuh,
Oleh dosa menghimpit utuh!

Aku!
Terbelenggu lagi oleh maksiat dan dosa,
Lantaran hati memilih dunia,
Mengikut nafsu kian gelora,
Sehingga jauh aku dari Keagungan Cinta!
Aku!
Ah!
Berlari mencari kiblahMu,
Berdiri penuh syahdu,
Sujud setulus kalbu,
Menangis tersendu-sendu,
Ya Allah!
Aku hambaMu,
Aku kembali memcariMu,
Setelah sekian kali hanyut dalam tempias nafsu,
Aku!
Gersang seluruh kalbu,
Dari cucuran air ketenangan,
Kerana jauh dari Al-Quran,

Aku!
Wahai Allah,
Seperti Muhammad berkata selalu,
“Demi jiwaku di tangan Mu”
Maka begitu juga aku,
“Demi jiwaku di tanganMu”
Rentaplah tanganku sekuat Kau mahu,
Pegang imanku dengan RahmatMu,
Bawa aku mencariMu kembali,
Agar aku tidak terdorong lagi,
Terlucut jatuh dari peganganMu,
Sehingga sukar untuk bertatih kembali,
Menyusun zikir cinta untukMu,
Merembes air mata tanda taubatku.

Aku!
Wahai Tuhan,
Ujianmu semakin sukar ku fahami,
Semakin bingung aku hadapi,
Semakin tenat aku jiwai,
Sehingga aku menangis sendiri.

Maafkan aku Tuhan,
Pintaku sekian kali,
Bukan ku menempik firmanMu,
Bukan ku bantah perintahMu,
Agar tetap sabar dan sabar dengan ujianMu,
Tapi….
Aku semakin lemas dalam kepiluan ini,
Aku semakin kecewa dengan kekalahan ini,
Aku KALAH TUHAN.

Ya Allah………..
Aku memanggilMu tanpa jemu,
Aku menjerih sedalam kalbu,
Aku merintih berduka nyilu,
Akhirkan semua ini….
Aku…………
Aku……….
Aku……….
Hanya ingin mencari damai,
Hasil imanku kepada Mu,
Damai sebuah hati yang tenang,
Agar cintaku padaMu kembali datang,
Menghanyutkan aku dalam lautan keinsafan,
Membangkitkanku menegakkan syiar Islam,

Tuhan………
Engkaulah penolongku selama kehidupan,
Engkaulah harapanku tidak pernah padam,
Tuhan……….
Rintihanku kabulkanlah,
Aku…….
Semakin sakit dengan kegagalan,
Semakin hanyut dalam nafsu kehidupan,
Aku semakin hina sebagai hambamu Tuhan,
Kerana aku tenggelam dalam kegagalan.

Tuhan,
Izinkan aku kembali lagi,
Dengarlah rintihku dari kedalaman hati,
Berilah aku peluang untuk kembali,
Takdirkan aku hidup dalam cintaMu,
Rahmatkan aku bahagia limpahmu,
Setelah lama aku hanyut dalam sendu,
Untuk melepaskan ingatan masa lalu.

Tuhan,
Matikan aku dalam CintaMu,
Matikan aku dalam sujud kepadaMu,
Matikan aku dalam tangis taubatku,
Matikan aku saatku rindu bertemu denganMu.
Maafkan aku Tuhan,
Sering gagal dalam berjuang,
Membunuh nafsu semakin kuat mencengkam,
Memercik hangat darah-darah kepahlawanan,
Sehingga kering dari wangian pentarbiahan,
Tenggelam dalam nanah nafsu syaitan!

Allah,
Tiada lagi suara memanggilMu,
Hanya hati menjerit pilu,
Kembalikan aku kepada Mu,
Panahi hatiku dengan hidayahmu,
Lepaskan aku dari belenggu nafsu,
Kuatkan imanku memerangi kejahatan,
Yang bersemadi dalam jiwa yang kusam,
Agar mampu aku bangkit kembali,
Membangun ummah yang lentok dalam kejahilan,
Khayal dalam kemaksiatan,
Buta dalam perjuangan Islam…

Kembalikan aku kepada semalam,
Semalam yang menuntutku untuk mati,
Mati dalam kemenangan
Menegakan syiar Islam.
Ya Allah Ya Rahman,
Makbulkan doaku ini,
Aku dizalimi nafsu sendiri,
Aku dicaci oleh imanku sendiri,
Aku semakin hanyut mencari diri,
Diri seorang hambaMu yang sejati,

Ya Allah…..

Tuesday, August 18, 2009

MALAYSIAN CULTURE: MOSAIC OR MELTING POT?

Malaysia, before the glorious of its independent on 31th August 1957 has relished juxtaposes of diverse multiculturalism. This is anticipated to the policy of the colonial power-British- that liberated the coming of the immigrants from outside Tanah Melayu especially from China and India in order to suit the employment vacancies in industrial and estate fields (the British brought in Chinese and Indians to work in on the mines, plantations and fill up the void in professional expertise.) On the other hands, Malays at the very beginning as the original people of the land were subjugated under British rules to dominate the traditional workplaces. Tanah Melayu at that time witnessed the impact of the detachment of the work fields by British which the economic gap vastly wide spread between indigenous people and the immigrants; that is Chinese immigrants successfully dominated the wealth of industrial field while on the opposite, Malays greatly struggle on their own land to survive difficultly in traditional workplaces especially in villages.

The history of multiculturalism after Malaysia reached its independent is not a romantic idea to enjoy. The multiculturalism depicted through the media very idealistic but in reality, it is not easy to live side by side in multiculturalism practices, different religions and beliefs, customs as well as language are among sensitive things that always raise riot among the multi-communities in Malaysia. The black day of 16 Mei racial riots of 1969 is one of the crucial results of ethnic tensions that if possible tried to erase from the history of Malaysia, and even the Malaysians do not willing to remember those societal disaster as they already adapted to the view of romantic multiculturalism. It sought to address the significant imbalance in the economic sphere where the minority Chinese population had substantial control over commercial activity in the country.[i]

Malaysia enjoys the large number of population in its multi-cultural identity, multi-ethnic, multi- lingual as well as multi religions society with Malays comprises 52% out of more than 27 millions of the whole populations, followed by Malaysians of Chinese descent with 23.7%, Malaysians of India descent comprises 7.1% of the population and others, consists of various tribal groups especially from Sabah and Sarawak comprise 11%.[ii] Does this scenario of Malaysia landscape of diverse ethnicity able to sustain its peace in the pipeline? Does Malaysia experience of multiculturalism turns its cultural landscape into mosaic instead of melting pot? Malaysia is on its way to the architecture of mosaic culture- a multitude of different cultures in a society or some areas in a city where people of different cultures coexist and they should preserve their cultures and the different cultures should interact peacefully within one nation- [iii] that will blissfully keep the juxtaposes of diverse community without melting their customs or beliefs to another product of culture (melting pot).

In the first place, history of Malaysia throughout its 52 years of independent proves the economic sectors always dominated by the Chinese. Chinese in their sustainable success and domination in economic sectors shows that the wealth of the country should not be shared by other ethnics. They may live side by side with Malays or India, but there still vast gap economically that giving people from different ethnicity that Chinese will forever control the economy of Malaysia, especially. The worst riot of Mei 16 of 1969 between Chinese and Malays lead to the introduction of the New Economic Policy which aimed to reduce the economic disparities between ethnic groups. Since that, more new policies introduced to encourage the unity among the ethnic groups in Malaysia such as Rukunegara and promoted the festival such as Deparaya and Kongsi Raya.[iv] Furthermore, the intensive policies made by government seem hard to merge the ethnicity groups to understand the need of having balance economic distribution of wealth. It may due to the attitudes of the Chinese whom widely known as hardworking nation compare to Malay stigmatized by all people as lazy. Thus, Malaysia economically distribute to the widespread of the cultural mosaic, where the diverse ethnicity can still live side by side in harmonious way, but fail to merge and share the prosperities own by particular ethnics. Malay as the majority population and the Bumiputera should be noted as a nation that is well- kin to their customs and heritage.

Second, cultural mosaic in Malaysia will keep on going due to the political factors that seem imbalance distribution of power for the non-Malay or Bumiputera but is regarded as high privilege of the Bumiputera to maintain its domination in the country especially in the governmental positions. Malaysia implemented democracy parliamentary system that the king (Yang Di-Pertuan Agong) held the highest position followed by the prime minister. The power of Agong in the religion and custom should not be questioned by the citizens since it is very sensitive issue for the Malay communities. But, this privilege given to Bumiputera does not terminate the position in ministry level to be employed by the non-Malays. The political struggles among politicians to hold the important position in government indicate the disintegration of same thought as Malaysian. The non- Malay communities feel pessimistic on the selection of the Prime Minister for 5 decade to be Malay men. Though the selection is done by democracy election, but they still feel that Malay Prime Minister will only serve for the Malay communities and he will struggle the best to sustain the right of the Bumiputera regardless in some occasions denying the right of non-Bumiputera. It gives a view that every ethnic wanted to have their own representative in the governmental making-decision levels that fortunate or unfortunately force the government to at least vacant some positions in the government to the non-Bumiputera. This is to avoid the ethnic tensions that may rise due to the prejudice and unsatisfactory among the diverse non-Malay ethnic groups. It depicts the multiculturalism that shapes the cultural mosaic of ethnicity group in Malaysia as something tensions and to be worried in the future. Every ethnic group does not want to submit to any policy that requires imbalance power distribution in the national level. This is among the main reasons lead to the manifestation of politics by the citizens such as Hindraf and ISA strike, recently.

Third reason leads Malaysia to nurture its mosaic culture is through the identity of the ethnicity itself. Each of the ethnicity members want to be recognized as one of their ethnicity group. A sense of belonging to the particular group in Malaysia is strong and it seems the hope of the current Prime Minister, YAB. Datuk Seri Najib Tun Razak of his ‘1 Malaysia’ is worth for nothing. People from different communities in Malaysia will not regard themselves as truly Malaysia. They merely choose to be recognized by their inherit descent nations. Malays, Chinese and even Indian would rather be called as Malay, Chinese and Indian though they admit the advantages and disadvantages carried by their own nations. The Malay will forever say Malaysia formally known as Tanah Melayu as their native land and other ethnicity who hundred years ago known as immigrants believe Malaysia is only the land of Malay people. Question rises, does 1 Malaysia would finally turn Malaysia into melting pot culture which everybody in the future voluntarily admit their nationality as truly Malaysian? Or it will drown as time goes by in future as what already experience to the previous motto of the former prime ministers to unite the diverse ethnicity as one- One Malaysia-?

In Addition, the official language of the Malaysia is Bahasa Melayu. The word Bahasa Melayu changed for several time. At one time, the official language of Malaysia known as Bahasa Malaysia which connoted the idea of regardless of any ethnicity comprise the population of Malaysia, everyone should master Bahasa Malaysia. Bahasa Malaysia at one time is used to promote the unity of the different communities under one language that is Bahasa Malaysia. This is to ensure every language speaker of different communities not to feel isolated and no language spoken in Malaysia superior over one another. But, the citizens still regard Bahasa Malaysia belongs to the Malay community. The official as well as the masses language are spoken and written in Malay. After revealed the fact to ‘Malaysialization’ of Bahasa Melayu failed to unite the diverse ethnicity living in Malaysia, the government finally bit their tongue by changing Bahasa Malaysia to Bahasa Melayu. Again, does this idea able to reunite the multi-ethnicity in Malaysia? Does Bahasa Melayu able to unite the country with people unconsciously puzzle into mosaic culture? Or it is a great indicator that language fail to unite the people? ‘Satu Bahasa, Satu Bangsa dan Satu Negara’ had been promoted before is viewed as idealistic to the country that enjoys the multiculturalism like Malaysia. Language is regarded by its native speakers as prestigious, honorable and an identity of particular nations. Everyone intuits to preserve his/her own language. ‘Bahasa Jiwa Bangsa’ is a very strong proverb to indicate the pertinent to preserve the language of the community. There lay a hope to maintain the existence of the nation, because where there is a language spoken, there live the nation.

Furthermore, when we talk on culture, we cannot run away from the custom practicing by diverse communities and ethnicities in Malaysia. The custom of the people are greatly shaped by the religions and beliefs they confess to. The dissimilarity in practicing the religions somehow leads to the social tension when people fail to understand the culture of others. The issue of the pig farm always disturbing Malay communities. They want to have not any pig farm projects in Malaysia because they regard pig as haram (prohibited) and dirty as truly Islam determined about it. But the issue is what about the Chinese people who regard pork as their everyday meals? And plus eating pork does allowed by the Buddhism or other ideologies practicing by them. The lack of understanding and self-prejudice among another are the reason lead to this problem unsolved. The policy of government that make a compulsion to wear a batik shirt and dress once a week for the governmental official look ideal from the outside appearance, but does it really indicates those different people from different background willingly melting their custom to suit with the government policy?

Last but not least, a very sensitive issue among others is the official religion in Malaysia that is Islam. Though Islam is universal religions that widely spread all over the world but, in Malaysia, people still regard Islam is the religion of Malays, not Chinese or Indian. The pessimistic idea play in non-Malays minds that Islam will ultimately become official religion as long as the country governed by the Malay Prime Minister. As mention earlier, the Agong symbolizes a pertinent role in maintaining Islam as the formal religion of the country and nothing can change the custom except the monarchy institution demolish which seems impossible. If monarchy institution happens to be demolished by anti-Malay parties, Malaysia will face big disastrous riots in future and the idea of romantic multiculturalism will turn to blood and sword. This is to say that, apart from living harmoniously in multicultural country and shaping the mosaic culture, any disagreement emerges among diverse ethnicity may lead to the chaos of the country, economically, politically as well as socially.

In conclusion, the multiculturalism has greatly shaped the country to experience the mosaic culture. Multiculturalism is always regarded as a glorious for the country that successfully able to bring different people from different ethnicity, religions and beliefs, customs as well as different language to leave side by side in a harmonious environment under one flag. But, it is not an easy task for the government to maintain the peace in the post-independent period after 5 decades of its independent. Malaysia is a country that experiencing the mosaic culture realizes that it is not something to be proud of in multiculturalism country. Many social tensions are emerged from this mosaic culture. This mosaic culture is like a beautiful rainbow, different colors live side by side harmoniously, but the process of combining and uniting the different ethnicity is not solute over a night. It may successfully maintain the peaceful and may unfortunately create a chaos for the country that welcoming multiculturalism, like Malaysia.

Sunday, July 5, 2009

Puing-Puing Berserakan

Dikedaerahan jiwa,
Terungkap satu rindu hamba,
Untuk kembali mencari Yang Esa,
Setelah lama hati menyirna.

Hamba itu mengerti,
Bukan mudah membina keyakinan,
Di atas puing-puing berserakan,
Untuk terus mengenggam cinta ilahi.

Tidak pernah jemu mencari,
Walau hari terus berganti hari,
Dan dosa masih belenggu diri,
Bukan mudah mengusir tabi’i.

Tetapi si hamba yakin pasti,
Sang Tuhan masih menerima diri,
Biar seluas mana dosa menghinggapi,
Sang Tuhan sedia memaafi,
Kerana syurga tercipta menanti,
Untuk si hamba menjejak kaki,
Itu janjiNya pasti.

Si hamba mengorak langkah pengharapan,
Di atas celahan puing-puing berserakan,
Mencari redho Sang Ilahi,
Moga wajahNya mampu membiasi,
Segenap jiwa yang merindui,
Keabadian sejati,
Bersama ALLAH Sang Rabbi.

Sunday, June 21, 2009

Early Marriage" Is it practicable Nowadays?

We have gone through the Prophet's life, we know Rasulullah S.A.W married a 9 years old girl namely Aisyah [Radiallahu anha].
If we say prophet's practice is not necessarily to be conformed, then we should refresh our shahadah.
But, how should we do to convince and open the eyes of the world about the truth? The truth that Rasulullah’s practice is always practicable and flexible?
By the way, in my humble opinion, when we ponder the practice of Rasulullah, we cannot deny the reality we are living in now, plus, that above practice is not obliged upon Muslim to follow, it is recommended as a part of Rasulullah Sunnah.
Many people who get married early [in Malay culture, marry during study is considered as early] such as below 20 always give a reason, 'we follow the sunnah', and in Islam it is encourage to marry early , to avoid bad things happen.
But, does that reason is applicable for a couple who are poor, want to marry early but an orphan, where to get money, how to survive?

I’m strictly not condemning sunnah!I LOVE MY RASULULLAH
many times we do not follow sunnah, we follow the culture but we credit our ction as 'we follow the sunnah!"

How long should we use the sentence 'we follow the sunnah!" to hide our real intention?'
We marry early to follow the sunnah’, but in reality they want to avoid the maksiat and to make things forbidden becomes allowable.
Means, before marriage they can be together, already touch the heart but yet fail to touch the body. When they married..ah..You know it right.
I’m not being sarcastic here, i just want to realize we should not use 'we follow the sunnah' just to hide our real intention.
Back to the topic,
in Arab countries, early marriage is a culture. When they decide to study in Malaysia, they already get marriage, in most cases.
It is good!
Can we apply it in Malaysia? in our Malay community? OF COURSE!
What prophet did is capable for us to follow.
But, nowadays if we let our sister at the age of 9 or 15, do you think they can survive with their new life as a wife?
Most probably, during Prophet’s time, girl already mature at early age, like our ancestors who married early.
Can we use that time to compare with our time?Our time where girl does know to taken care even herself, to cook the rice or to wash the plates.
What they know is playing with the doll, pondok-pondok and etc.
my point here is strictly not to go astray from al-Quran and Sunnah, just trying to open up the mind of us, how easily we as in identity card stated as Islam, taking 'we follow the sunnah' as for granted!
Like a husband who wants to marry a second wife 'i just follow the sunnah!'

But deep in his heart, he just follows the nafsu.
But...Allah is Almighty; He can do anything to us, who know sister our sis get married early, she changes to be better.
-Wallahua'lam-

Di Sebalik Perkahwinan Rasulullah

Disebalik perkahwinan Rasulullah berkahwin ramai sehingga riwayat menyatakan sebelas tetapi ummatnya hanya dibenarkan berkahwin 4. Namun, sesudah diteliti ilmu dari buku dan pengajian, aku memahami bahawa tindakan baginda itu bukan atas dasar nafsu kerana seiap tindakan baginda berada dibawah perintah Allah. Baginda tidak akan melakukan sesuatu kecuali mendapat perintah Allah. Begitu juga hal perkahwinan baginda yang ramai.

Perlu kita ingat, segala yang ada pada diri rasulullah sangat sempurna untuk diangkat menjadi suri teladan dalam kehidupan kita walaupun baginda sudah wafat 1418 tahun lalu. Jika kita telusuri status wanita yang dikahwini baginda berbeza-beza. Baginda pernah berkahwin dengan Khadijah, seorang usahawati yang sangat berjaya dalam kalangan kaumnya dan beliau juga seorang janda. Setelah itu baginda berkahwin pula dengan aisyah, seorang gadis yang masih budak lagi, baginda juga pernah berkahwin dengan hamba seperti Maryatul Qibtiyyah dari Mesir dan pernah mengahwini tahanan perang seperti Sufiyyah.

Kalau baginda berkahwin hanya kerana nafsu, pasti nafsu baginda akan mendorongnya untuk membolot segala harta kekayaan Khadijah, tetapi baginda masih hidup sederhana bahkan setelah baginda diangkat menjadi rasulullah, segala harta khadijah diinfakan kepada dakwah islam. Jika pula baginda mengahwini aisyah yang masih budak kerana menurut nafsunya pasti aisyah sudah dibawa tinggal bersamanya setelah kahwin tetapi ada riwayat menyatakan bahawa aisyah masih tinggal bersama ibu bapanya setelah 2 tahun berkahwin dengan baginda. Baginda juga tidak layak dituduh berkahwin kerana menurut nafsunya jika bagnda menikahi sahaya, kerana hamba pada zaman itu tidak layak untuk dibuat isteri, mereka hanyalah semata-mata hamba abdi kepada tuannya, selagi mereka tidak dimerdekakan, mereka tetap milik tuan mereka.

Selain itu, perkahwinan baginda dengan khadijah juga bukan dimulai oleh baginda. Khadijah yang terlebih dahulu menyuruh Maisarah bertanyakan baginda bukan sebaliknya kerana baginda sedar baginda miskin. Jika perkahwinannya didasari nafus semata-mata pasti baginda sudah lama mengeksploitasi cinta khadijah untuk menghabiskan hartanya dan keluar berfoya-foya dengan pelacur diluar. Tetapi baginda hanya mencintai khadijah sehingga baginda terus menyebut-nyebut namanya walaupun khadijah sudah lama meninggal.

Jika nafsu menjadi dasar perkahwinan baginda, mengapa baginda memilih unutk berkahwin dengan janda? Kenapa tidak dengan anak dara yang merdeka sedangkan baginda seorang nabi dan ketua ummat islam? tambahan lagi baginda seorang yang cantik, pasti setiap gadis mahu menjadi isterinya. Tetapi seperti yang kita tahu itu bukan kemahuannya, baginda hanya menikahi aisyah yang masih dara selama kehidupannya kebanyakannya janda.

Manusia yang berfikir bahawa baginda berkahwin atas dasar nafsu, dakwaan itu tidak didasari oleh penelitian terhadap sejarah baginda sebaliknya dakwaan itu sendiri berpaksikan kebencian terhadap Rasulullah. Tambahan lagi, jika baginda berkahwin kerana nafsu, kenapa saja tidak baginda ceraikan isteri-isterinya yang janda dan menikahi si dara yang masih perawan? Jika kalian seorang lelaki yang bernafsu, mahukah kalian menikah dengan janda sedangkan didepan mata kalian masih ramai lagi yang masih muda remaja. Perkahwinan baginda dengan janda tidak mengurangkan sedikitpun ketinggian darjat dan kehormatannya sebagai Rasulullah bahkan tindakannya dihormati oleh sahabat dan kita kerana kita yaqin, tidak ada seorang nabipun yang berkahwin atas dasar nafsu semata-mata apatah lagi baginda, satu-satunya makhluk yang paling dekat dengan Allah.

Banyak hikmah baginda berkahwin dengan wanita dalam kalangan yang pelbagai status. Semua itu memberi satu didikan kepada ummat agar segala yang dilakukan bukan atas dasar nafsu yang bercabang tidak menentu itu.

Nabi berkahwin dengan khadijah seorang janda, maksudnya janda itu masih layak dikahwini dan statusnya sebagai janda tidak harus dijadikan sebagai sempadan untuk menidakan fitrah mereka sebagai wanita seperti yang terus terjadi dalam agama hindu, bahawa seorang balu tidak kira sudah bercerai atau kematian isteri, tidak boleh berkahwin lagi dan mereka juga diwajibkan memakai sari putih tanda mereka sudah menjadi balu; balu yang teraniaya. Dengan tindakan baginda,nasib kaum janda terbela.

Nabi juga berkahwin dengan dara, sesuatu yang norma dalam kehidupan manusia untuk mengahwini gadis yang masih sunti. Tetapi perlu dingat bahawa aisyah masih lagi budak ketika dikahwini, maksudnya, perkahwinan itu dibolehkan ketika perempuan itu masih budak. Namun reality sekarang, jika ia dilakukan , seperti satu tindakan yang salah kerana mereka berpendapat nasib kanak-kanak akan teraniaya seperti mengeksploitasi kanak-kanak tambahan lagi kebanyakan negara mengharamkan pernikahan di bawah umur termasuk Malaysia kecuali di sesetengah tempat di India ynag masih berpegang pada adat tradisi yang mengahwinkan anak mereka ketika masih lagi kanak-kanak. Tetapi, apa bezanya perkahwinan Rasulullah dengan aisyah dan perkahwinan nenek moyang kita dulu-dulu yang berkahwin ketika masih lagi belasan tahun? Tapi mereka masih lagi mmapu meneruskan kehidupan bahkan dikurniakan anak-pinak keliling pinggang. Kita sekarang terus ragu dengan tindakan rasulullah sehingga ia mempengaruhi pemilikiran kita bahawa hanya lelaki yang mencapai umur 40 tahun baru digalakan kahwin ataupun setelah memperoleh pekerjaan yang bergaji lumayan, ragu jika rezeki tidak diperutukan untuk kita. Kita cuma terbiasa dengan serangan fikiran barat dan cara hidup mereka yang melihat perkahwinan itu bukan satu elemen yang penting dalam bermasyarakat dan menganggap perkahwinan itu menjadi penghalang kepada kebebabasan wanita.

Selain itu, rasulullah juga menyarankan agar memilih anak dara untuk dikahwini berbanding janda, jika melihat situasi sekarang, sangat bertepatan sekali ucapan baginda . jika baginda menyuruh untuk memilih janda, makin ramai andartu diluar sana dan mungkin masalah social seperti zina akan lebih meningkat. Adil bukan?

Nabi juga mengahwini sahaya, ini menunaikan status dan tingkat kelas seseorang bukan penghalang. Tidak bererti hamba tidak boleh kahwin dengan orang merdeka. Dalam islam, miskin tidak bermakna seseorang tidak boleh kahwin dan tidak pula bererti seseorang tidak boleh kahwin dengan orang yang lebih kaya seperti cerita-cerita P.Ramlee dalam ‘Ibu Mertuaku’.

Akhir sekali, selama baginda bersama khadijah, isterinya juga membantu dari segi kewangan kerana beliau seorang wanita yang kaya disamping rasulullah bekerja. Dalam hal ini, isteri dibolehkan bekerja dan menggunakan gajinya untuk menampung kewangan rumah tangga bersama suami tanpa memberi alasan bahawa dalam islam, gaji isteri tidak wajib unutk dikongsi. Itulah pentingnya memilih pasangan yang sama-sama memahami hakikat sebuah rumah tangga.

Tulisan ini bersumberkan dari kefahaman saya selama pengajian saya dan pembacaan bahan-bahan agama serta observation tentang perihal masyarakt dunia sekarang. Anda mungkin tidak bersetuju, jika ada sebarang idea yang bercangkahan dengan AL-Quran dan Sunnah, jika kalian dapat kenal pasti, mohon beritahu saya. Khuatir jika yang terbaca, absorb membabi buta tanpa usul periksa, akidah terpesong entah kemana, saya juga yang dapat sahamnya.

-Wallahua’lam-

Wednesday, June 10, 2009

Seperti Rasulullah bukan orang Arab!

Maksud saya, setiap kali kita mendengar, membaca dan jua menghayati sirah baginda yang terpuji, pernahkah kita rasa Rasulullah bukan orang Arab? Rasulullah bukan milik orang Arab. Jika kita membaca kisah orang-orang Arab, Al-Banna, al-Qutb dan lain-lain, kita boleh merasakan bahawa mereka orang Arab, bukan orang ajam. Tapi, bila kita berbicara tentnag segenap perihal kehidupan Rasulullah, tidak pernah kita merasakan bahawa baginda seorang Arab yang milik orang Arab sahaja, bahkan kita merasakan baginda juga seperti sebahagian dalam kalangan bangsa kita. Kerana itu, kita merasa dekat dengan baginda. Kita tidak merasakan baginda seorang yang asing setiap kali kita mendengar tentang beliau.

Itulah keberkahan, “Wama arsalna ka illa RAHMATAN LILA’LAMIIN!” Benarlah kata-kata Tuhan kita.

Maka kita tidak perlu cemburu kerana Rasululllah S.A.W bukan keturunan Melayu mahupun keturunan selain bangsa Arab, kerana nikmat mengenali dan merasai kehadiran baginda dalam kehidupan kita sudah cukup memuaskan keimanan kita terhadap baginda, mungkin segolongan bangsa Arab tidak ambil pusing pun tentang baginda. Jadi, sesiapa yang dapat merasai kehadiran baginda dalam hatinya, mereka itu lebih baik dari orang Arab, orang Mekkah mahupun Madinah yang segolongannya tidak menghiraukan baginda.
-Wallahua'lam-

Tuesday, June 9, 2009

Warkah: Jangan Ditangisi...

Jangan ditangisi isi surat ini,
Aku harus meninggalkanmu,
Kerana aku bukan hakmu,
Jangan ditangisi kemungkiran janji,
Janji manusia tidak pasti dipenuhi,
Semalam aku menjanji bahagia kepadamu,
Tapi hari ini aku mencarik janji sendiri.

Jangan biarkan hatimu terluka,
Bukan aku jua penawarnya,
Jangan menaruh dendam terhadapku,
Kerana aku bukan mengkhianatimu,
Aku hanya perlukan masa,

Biarkan aku mengembara dalam zamanku ini,
Entah bila sudahnya aku tidak tahu,
Apa yang aku tahu,
Semakin jauh aku mendekatimu,
Semakin mudah untuk Allah mendekatiku,
Semakin mudah untuk hatiku memberi kepadaNya.

Janganlah kau berdengki denganNya,
Dia bukan musuh cinta kita,
Dia bukan penghalang kita,
Dia yang menciptakan rasa cinta di hati,
Dia juga berhak menentukan hak syariahNya sendiri.

Aku juga tidak lagi membantah kemahuanNya,
Tidak lagi aku turut nafsu di hati,
Jangan ditangisi pengakhiran ini,
Benar aku penat dengan cintaMu,
Kerana aku sedar,
Cintaku bersandar bahagia yang palsu,
Aku semakin penat menipu dirimu,
Sedangkan aku juga tahu ini bukan keinginanku.

Oleh itu aku undurkan diri biar menyakiti,
Aku bersedia untuk melukaimu,
Demi kebahagian hatiku.
Aku tidak mampu membohongi gertak imanku.

Aku ingin mencariNya kembali,
Sudah jauh aku meninggalkanNya,
Aku ingin kembali mengenaliNya,

Aku ingin merasa keberadaanNya di hatiku,
Aku ingin sujudku dekat padaNya,
Aku ingin khusyukku sampai kepadaNya,
Aku ingin zikirku membahagiakanNya,
Aku ingin mendalami asmaul husnaNya.

Jangan ditangisi,

Jika tidak, entah atas dasar apa lagi harus aku menerimamu,

Seperti kata Imam Nawawi:
Aku mencintaimu kerana Iman didadamu, jika ia hilang darimu, maka hilang juga cintaku padamu.

Itulah juga pendirianku terhadapmu.
Itu dasar cintaku.